Example floating
Example floating
Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300
DaerahHukumKebudayaan

Kisah Pilu Dedi Darmawan: di Balik Tenggelamnya KM. Juwita, Antara Keadilan yang Dicari dan Hidup yang Terancam

3
×

Kisah Pilu Dedi Darmawan: di Balik Tenggelamnya KM. Juwita, Antara Keadilan yang Dicari dan Hidup yang Terancam

Share this article

Kubu Raya,–Mentarikhatulistiwa.co.id-Hari itu, 5 Januari 2026 silam, menjadi hari yang mengubah seluruh nasib hidup Dedi Darmawan, warga Desa Riak Bandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Di perairan Rasau Jaya, kapal miliknya, KM. Juwita, tenggelam. Peristiwa yang diduga kuat dipicu oleh gelombang besar akibat laju kapal cepat milik perusahaan pelayaran besar, Marina Express, tidak hanya merenggut kapal yang menjadi sumber kehidupan Dedi, tetapi juga memicu rangkaian masalah berat yang harus ia tanggung sendirian.Rabu(15/04/2026)

KM. Juwita bukan sekadar kapal angkutan biasa. Bagi Dedi, kapal tersebut adalah satu-satunya sarana ia mengais rezeki untuk menghidupi keluarga. Tidak hanya mengangkut penumpang, kapal itu juga sering digunakan untuk mengangkut hasil panen masyarakat setempat, termasuk buah sawit yang menjadi tumpuan ekonomi warga. Namun, saat kejadian itu terjadi, muatan sawit milik masyarakat yang sedang diangkut ikut lenyap ke dasar perairan, menambah deretan kerugian yang harus ditanggung oleh banyak pihak.

Dalam keterangannya kepada awak media, Dedi mengungkapkan rasa putus asanya. Ia bahkan telah membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Prabowo dan menjadi sorotan publik. “Tujuan saya membuat surat terbuka itu sederhana saja, saya hanya ingin suara kami, masyarakat kecil di Desa Riak Bandung ini didengar oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi Kalimantan Barat, maupun pemerintah Kabupaten Kubu Raya,” ujarnya dengan nada bergetar.

Dedi menyadari bahwa pihak yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, yaitu Marina Express beserta pihak terkait seperti PT. Kan dan Grup Harita, merupakan perusahaan besar yang memiliki jaringan luas dan dukungan yang kuat. Hal ini membuat ia merasa posisinya sangat tidak seimbang. “Mungkin semua orang tahu bahwa mereka bukan perusahaan kecil, tapi perusahaan raksasa. Apakah kami yang hanya rakyat kecil ini masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan keadilan?” ucapnya dengan nada ragu namun tetap berharap.

Masalah yang dihadapi Dedi tidak berhenti pada kerugian akibat tenggelamnya kapal. Beban ekonomi semakin menumpuk karena kapal tersebut ternyata masih dalam proses pembayaran kredit di Lembaga Keuangan Koperasi Unit Desa (KU). Saat ini, pihak Koperasi sudah mulai menagih tunggakan pembayaran yang belum dapat ia penuhi.

Karena tidak memiliki kemampuan finansial untuk membayar, Dedi mengaku pernah berada di titik terendah hingga meminta pihak koperasi untuk melaporkannya ke pihak berwajib. “Saya benar-benar tidak punya uang untuk membayar. KM. Juwita adalah satu-satunya alat mencari nafkah saya. Tanpa kapal itu, dari mana saya harus mencari uang?” ungkapnya.

Sejak kejadian itu, hari-hari Dedi dipenuhi kebingungan. Ia tidak hanya harus menanggung rasa sedih atas hilangnya kapal kesayangannya, tetapi juga harus memikirkan nasib keluarganya yang terancam karena tidak memiliki sumber pendapatan. Sementara itu, masyarakat setempat yang hasil panennya ikut hilang juga turut merasakan dampak ekonomi dari peristiwa tersebut.

Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai penyelesaian masalah ini. Pihak berwenang diketahui masih melakukan penyelidikan terkait peristiwa tenggelamnya KM. Juwita. Di sisi lain, pihak perusahaan yang dituding menjadi penyebab belum memberikan pernyataan resmi terkait masalah ini.

Kisah Dedi menjadi cerminan masalah yang sering dihadapi oleh masyarakat kecil saat bersengketa dengan pihak yang lebih besar. Ia berharap surat terbuka yang dibuatnya dapat menjadi jembatan agar pemerintah dan pihak terkait dapat turun tangan, memberikan keadilan, serta mencari solusi terbaik untuk memulihkan kondisi ekonomi yang telah hancur.

“Kami tidak meminta lebih, kami hanya ingin keadilan dan kesempatan untuk memulai hidup kembali,” tutup Dedi.(hen)

Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 600x600Example 600x600