Kapuas Hulu—Mentarikhatulistiwa.co.id-Suara lirih penuh kepiluan terdengar dari Desa Kerangas, Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu. Di usia kemerdekaan ke-81, warga desa ini masih mendambakan perhatian pemerintah akan satu hal yang menjadi urat nadi kehidupan mereka: akses jalan yang layak.
Jalan itu adalah satu-satunya rute yang dilalui warga untuk mengangkut hasil ladang dan pertanian ke pusat kecamatan. Namun hingga kini, kondisinya masih sangat memprihatinkan dan belum mendapat perbaikan berarti.
Saat berpapasan dengan awak media di lokasi, seorang petani dengan nada pilu berbicara dalam bahasa daerahnya:
lihatlah jalan kami ini sudah seperti jalan yang dipakai kerbau, bagaimana kami bisa menjual hasil ladang ke pasar kalau musim hujan? Tidak ada kendaraan yang bisa lewat!”
Warga menuturkan, setiap kali hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur pekat. Kendaraan bermotor hampir mustahil melintas. Hasil panen petani pun sering tertumpuk dan rusak karena tidak bisa dibawa ke pasar tepat waktu.
Kondisi ini bukan sekadar menghambat perekonomian warga. Lebih menyayat hati, jalan yang rusak itu pula yang harus dilewati saat ada warga yang sakit dan harus dibawa ke kecamatan atau kabupaten. Di musim hujan, perjalanan yang seharusnya singkat bisa terjebak berjam-jam di kubangan lumpur, mempertaruhkan nyawa pasien.
“Sudah 81 tahun merdeka, namun rasanya kami belum menikmati kemerdekaan yang setara dengan desa-desa lain,” ujar warga dengan harapan yang masih tersisa. “Kami hanya meminta kewajaran: jalan yang layak. Itu saja.”
Warga Desa Kerangas pun menaruh harapan besar kepada Bupati Kapuas Hulu yang dikenal santun dan bersahaja. Warga berharap pemimpin daerah yang mereka banggakan ini segera merangkul dan merealisasikan keinginan sederhana warga: membangun jalan yang layak, agar roda ekonomi desa bisa berputar dan nyawa warga pun tidak lagi terancam saat harus berobat.
Harapan itu sederhana, namun maknanya besar: agar kemerdekaan yang dirayakan seluruh Indonesia benar-benar terasa manfaatnya hingga ke pelosok desa, termasuk di Desa Kerangas yang kini masih terperangkap dalam lumpur panjang penantian.(hen)





























