Example floating
Example floating
Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300 Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300
Uncategorized

Pemkot Jakbar Puji Film ‘Ageman’ Karya Pemuda Lampung, Usul Nobar Bagi ASN, Guru, dan Pelajar di DKI Jakarta

1
×

Pemkot Jakbar Puji Film ‘Ageman’ Karya Pemuda Lampung, Usul Nobar Bagi ASN, Guru, dan Pelajar di DKI Jakarta

Share this article

JAKARTA,mentarikhatulistiwa.co.id – Upaya memperkuat nilai-nilai toleransi, menjaga persatuan bangsa, serta mencegah berkembangnya paham radikalisme di kalangan generasi muda terus digalakkan lewat pendekatan edukatif.

Salah satu langkah konkretnya diwujudkan melalui kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film edukasi toleransi bertajuk Ageman yang digelar di Auditorium Yayasan Pangudi Luhur, Jakarta Barat, pada Minggu (1/11/2026).

Acara yang dihadiri oleh ratusan peserta ini menyedot perhatian besar dari berbagai elemen masyarakat dan birokrasi.

Turut hadir mewakili Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat, Asisten Pemerintahan (Aspem) Holi Susanto, bersama perwakilan Kesbangpol Jakbar Zakiyah, unsur Kodim, Polres, FKUB Jakarta Barat, PW Muhammadiyah DKI Jakarta, PCNU Jakarta Barat, hingga GP Ansor dan Banser Jakarta Barat. Selain itu, sejumlah organisasi kemasyarakatan seperti FBR, Jembatan Kemajuan Bangsa (JKB), dan USDEK Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) juga tampak memadati lokasi acara.

Apresiasi tinggi datang langsung dari Pemerintah Kota Jakarta Barat.

Dalam sambutannya setelah menyaksikan film tersebut, Aspem Kota Administrasi Jakarta Barat, Holi Susanto, memuji keberanian film Ageman dalam memotret realitas sosial.

“Film Ageman yang diproduseri Ken Setiawan ini dinilai sarat akan pesan moral dan refleksi sosial yang relevan dengan dinamika kebangsaan saat ini. Sebelumnya, saya sangat penasaran dengan film ini.

Setelah menonton, saya puas. Filmnya keren banget dan berani mengangkat isu intoleransi serta bullying (perundungan) yang kerap menjadi akar sikap radikalisme dan aksi terorisme,” ujar Holi Susanto.

Holi menambahkan bahwa film ini sangat relate dengan kondisi masyarakat saat ini yang masih diwarnai kasus perundungan dan intoleransi.

Keunggulan lain dari film ini adalah keberhasilannya mengangkat kearifan lokal Lampung, mulai dari lima falsafah hidup masyarakat Lampung hingga tradisi kuliner Seruit yang merepresentasikan kebersamaan dan gotong royong.

Melihat dampak positifnya, Holi Susanto secara khusus merekomendasikan agar film Ageman dapat diputar secara nasional.

Ia mengusulkan agar di wilayah DKI Jakarta, film ini menjadi agenda nobar dan diskusi bagi aparatur sipil negara (ASN), kepala lembaga pendidikan, guru, serta pelajar. Langkah ini dinilai strategis guna menciptakan suasana harmonis di tengah keberagaman latar belakang agama.

Sementara itu, produser film Ageman yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Ken Setiawan, memaparkan filosofi di balik karya tersebut. Istilah “Ageman” memiliki makna pakaian, label, identitas, atau pedoman hidup.

“Agama dan nilai kebangsaan semestinya menjadi pedoman kehidupan yang membawa kedamaian. Keduanya tidak boleh dijadikan kedok untuk memecah belah masyarakat, melainkan harus menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang harmonis, saling menghormati, dan menjaga persatuan,” tegas Ken, yang juga dikenal luas sebagai pendiri NII Crisis Center (pusat rehabilitasi korban NII).

Usai pemutaran film, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang menghadirkan Ken Setiawan bersama Jenderal Ahmad Nurwahid.

Dalam pemaparannya, Jenderal Ahmad Nurwahid film Ageman sangat bagus karena diambil darubkisah nyata, film ini menekankan pentingnya sinergi dari seluruh lapisan masyarakat untuk membentengi lingkungan dari bahaya laten radikalisme.

Ketua panitia, Yohanes Rudi berharap melalui kegiatan ini, ia berharap masyarakat khususnya lembaga pendidikan, generasi muda, serta organisasi kemasyarakatan dapat semakin memperkuat wawasan kebangsaan, memahami urgensi toleransi, dan berperan aktif mencegah berkembangnya paham intoleransi, radikalisme, serta terorisme di lingkungan masing-masing agar masyarakat dapat hidup rukun harmonis aman dan damai walaupun layar belakang agama berbeda beda.(red)

Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 600x600Example 600x600