Example floating
Example floating
Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300 Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300
Uncategorized

Pengusaha Sawit di Bengkayang Keluhkan Pupuk Langka dan Solar Tembus Rp18 Ribu per Liter

3
×

Pengusaha Sawit di Bengkayang Keluhkan Pupuk Langka dan Solar Tembus Rp18 Ribu per Liter

Share this article

Bengkayang, Mentarikhatulistiwa.co.id- Kelangkaan pupuk dan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar menjadi keluhan serius para petani dan pengusaha kelapa sawit di Kabupaten Bengkayang.

Hal itu diungkapkan pengusaha perkebunan sawit di Kabupaten Bengkayang, Edison Akong, yang akrab disapa Akong.
Menurutnya, dua persoalan tersebut sangat menghambat produktivitas kebun sawit, terutama untuk mobilisasi angkutan Tandan Buah Segar (TBS).

“Sangat sulit mendapatkan pupuk dan solar. Padahal kebun sawit ini kami tekuni untuk memanfaatkan lahan kosong agar produktif,” ujar Akong Rabu pagi (21/10/2026)

Akong menilai, kelapa sawit merupakan komoditas yang menjanjikan karena mampu memberikan penghasilan bulanan hingga puluhan tahun serta menyerap banyak tenaga kerja.

“Sawit bisa menampung banyak tenaga kerja dan menjadi sumber penghasilan masyarakat. Lahan-lahan tidur bisa kita tanami sawit untuk menopang ekonomi,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan pembukaan kebun sawit harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, terutama sumber air.

“Kita harus bisa memilah mana yang bisa ditanami sawit dan mana yang harus dilestarikan. Terutama sumber air, karena air adalah kunci kehidupan dan juga untuk perkebunan itu sendiri,” tegasnya.

Antre Berjam-jam, Solar Tetap Tak Didapat

Kendala paling dirasakan saat ini adalah sulitnya memperoleh BBM solar untuk truk pengangkut TBS.

“Sangat sulit mendapatkan solar. Antre berjam-jam di SPBU, bahkan setelah antre pun tidak dapat BBM-nya,” keluh Akong.

Akibat kelangkaan di SPBU, petani terpaksa membeli solar eceran dengan harga melambung tinggi.

“Di pasaran kami sudah harus membeli dengan harga Rp18.000 per liter,” ungkapnya.

Edison Akong Usul Harga Solar Dinaikkan Jadi Rp10-12 Ribu

Akong menilai kebijakan subsidi solar Rp6.800 per liter tidak dinikmati petani sawit karena distribusinya tidak lancar. Ia bahkan mengusulkan agar pemerintah mengevaluasi skema subsidi.

“Ini dilema. Di satu sisi subsidi Rp6.800, tapi di lapangan kami beli Rp18.000 dari pengecer. Lebih baik tidak usah disubsidi, tapi harganya distandarkan Rp10.000 sampai Rp12.000. Itu lebih adil, tidak membebani keuangan negara, dan kami tidak perlu antre tapi tidak dapat,” ujarnya.

Ia meminta pemerintah, Pertamina, dan pengelola SPBU menjamin kelancaran penyaluran solar agar aktivitas perkebunan tidak terganggu.

“Pemerintah harus menjamin BBM tidak langka dan mengawasi penyalurannya supaya angkutan lancar dan penghasilan perkebunan bisa meningkat,” katanya.

Siasati Pupuk Langka dengan Limbah Kandang

Selain BBM, kelangkaan pupuk kimia juga menjadi persoalan. Untuk menyiasatinya, Akong mencampur pupuk kimia dengan pupuk kandang dan limbah sawit.

“Pemerintah jangan hanya mengandalkan pupuk kimia. Bisa juga memanfaatkan limbah kandang dicampur limbah sawit untuk mengurangi pengeluaran petani,” sarannya.

Menurutnya, metode campuran tersebut terbukti cukup baik untuk produktivitas kebun sawit miliknya.

“Saya mencampur pupuk kimia, pupuk kandang, dan limbah sawit. Hasilnya cukup baik untuk kebun saya,” pungkasnya.(Kur)

Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Example 1000x300Example 1000x300Example 1000x300Example 600x600Example 600x600